Kamis, 07 Juni 2018

Akhlak Tasawuf

BAB I
PENDAHULUAN


A.           LATAR BELAKANG
Akhlak merupakan satu unsur yang di miliki oleh setiap manusia. Akhlak dapat memandu perjalanan hidup manusia agar selamat di dunia dan di akhirat. Tidaklah berlebihan bila misi utama kerosulan Nabi Muhamad SAW. Adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sejarah pun mencatat bahwa  faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prina, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW di jadikan contoh dalam kehidupan di berbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini di jamin keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Di dalam hadis di sebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah yang mempunyai akhlak yang bagus.
 
B.            RUMUSAN MASALAH

1. Mengetahui tentang Pertumbuhan Tasawuf
2. Mengetahui tentangg Perkembangan Tasawuf
3. Mengetahui pengertian Taswuf Sunni
4. Mengetahui pengertian Tasawuf Syi’i


BAB II
PEMBAHASAN

A.           PERTUMBUHAN TASAWUF
Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW dan tabi’in belum ada istilah tersebut. Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini
Tasawuf  merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya brahmana hinduisme, filsafat iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nasrani Awal, Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran islam melalui zindik majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab referensinya, dan telas diletakkan dasae-dasar dan kaidah-kaidahnya pada abad ke-empat dan kelima hijriyah.
Tasawuf baru muncul pada masa sahabat dan tabi’in. Sebenarnya Nabi SAW dan para sahabat sudah sufi karena mereka selalu mempraktekan hal-hal yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak pernah meremehkannya.
Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku tertentu. Ketika kekuasaan islam makin meluas dan terjadi perubahan sejarah yang fenomenal pasca Nabi dan sahabat, ketika itu pula kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 Hijriyah. Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang kasyf al-dzunnun orang yang pertama kali diberi julukan al-sufi adalah Abu Hasyim Al-Sufi ( wafat. 150 H)
Pada prinsipnya, perkembangan tasawuf itu ada tiga tahapan, pertama periode pembentukan dengan menonjolkan gerakan-gerakan zuhud sebagai fenomena sosial. Periode ini berlangsung selama abad pertama dan kedua hijriyah yang dipelopori oleh para sahabt, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Pada masa ini fenomena yang terjadi adalah semangat untuk beribadah dengan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, untuk kemudian mereka mencoba menjalani hidup zuhud. Tokoh-tokoh sufi pada periode ini adalah Hasan Bashri (110 H) dengan konsep khouf dan Rabi’ah Al-Adawiyah(185 H) dengan konsep cinta (Al-Hubb).
Kedua, memasuki abad ketiga dan ke-empat hijriyah tasawuf kembali menjalani babak baru. Pada abad ini tema-tema yang diangkat para sufi lebih mendalam. Berawal dari perbincangan seputar akhlak dan budi pekerti, mereka mulai rame membahas tentang hakikat Tuhan, esensi manusia serta hubungan antar keduanya. Dalam hal ini kemudian muncul tema-tema seperti ma’rifat, faa’, dzauk, dan lain sebagainya. Para tokoh pada masa ini diantaranya Imam Al-Qusyairi, Suhrawardi Al-Baghdadi, Al-Hallaj dan Imam Ghazali.
Ketiga, abad ke-enam dan ketujuh tasawuf kembali menemukan suatu bentuk pengalaman baru. Persentuhan tasawuf dengan filsafat berhasil mencetak tasawuf menjadi lebih filosofis yang kemudian dikenal dengan istilah teosofi. Dari sinilah kemudian muncul dua varian tasawuf, sunni dengan coraknya amali dan falsafi dengan corak iluminatifnya. Adapun tokoh-tokoh teosofi abad ini adalah Surahwardi Al-Maqtul (549 H), Ibnu Arabi (638 H), dan Ibnu Faridh (632 H).
Jika dilacak secara cermat maka praktek-praktek zuhud yang berkembang di dua abad pertama tersebut adalah hal yang lumrah dan dapat ditemukan pembenarnya.
B.            PERKEMBANGAN TASWUF
Menurut Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, M.A,. dalam bukunya intelektualisme tasawuf, menyatakan bahwa sejarah perkembangan tasawuf dikalangan islam mengalami beberapa periode, yang secara rinci dapat disebutkan sebagai berikut,
a.    periode pembentukan
pada abad I hijriyah bagian kedua, muncul Hasan Al-Bashri dengan ajaran khauf untuk mempertebal takut kepada Tuhan. Dalam ajaran-ajaran yang dikemukakan sudah mulai dianjurkan mengurangi makan (ju’), menjauhkan diri dari keramaian duniawi (zuhud), dan mencela dunia (dzamm ad-dunya), seperti harta, keluarga dan kedudukan. Kemudian pada akhir abad II hijriyah, Hasan Al-Bashri diikuti oleh Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang terkenal dengan ajaran mahabbah.
Selanjutnya pada abad II hijriyah, tasawuf tidak banyak berbeda dengan abad sebelumnya, yaitu sama dalam corak kezuhudan meskipun penyebabnya berbeda. Penyebab pada abad ini adalah adanya kenyataan pendangkalan ajaran agama dalam melaksanakan syariat agama (lebih bersikap fiqh).
b.    Periode pengembangan
Tasawuf pada abad III dan IV Hijriah, pada abad ini tasawuf sudah bercorak kefanaan(ekstase) yang menjurus ke persatuan hamba dengan khalik. Orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalma kecintaan (fana’ fi al-mahbub), bersatu dengan kecintaan (ittihad bi al-mahbub), kekal dengan Tuhan (baqa’ bi al-mahbub), menyaksikan Tuhan (musyahadah), bertemu dengan-Nya (liqa’), dan menjadi satu dengan-Nya (‘ainul al-jama’), seperti di ungkapkan Abu Yazid Al-Busthami (261 H). Ia adalah orang pertama yan menggunakan istilah fana (lebur atau hancurnya perasaan), sehingga ia dibilang sebagai peletak batu pertama dalam aliran ini.
Sesudah Abu Yazid Al-Busthami, lahirlah seorang sufi kenamaan, yaitu Al-Hallaj (w. 309 H) yang menampilkan teori hulul (reinkarnasi Tuhan).
Pada akhir abad III, orang berlomba-lomba pula menyatakan dan mempertajam pikirannya. Kemudian datanglah Junaidi Al-Baghdadi yang meletakkan dasar-dasar ajaran tasawuf dan thariqah (tarekat).
  Pada abad III dan IV Hijriah, terdapat dua aliran. Pertama, aliran tasawuf Sunni, yaitu bentuk taswuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan hadis secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingakatan rohaniah) mereka kepada dua sumber tersebut. Kedua, aliran tasawuf semi falsafi, yaitu para pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syatahiyat) serta menolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (ittihad atau hulul).
c.    Periode konsolidasi
Menurut Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, M.A,. tasawuf pada abad V hijriyah mengadakan konsolidasi. Pada abad ini ditandai kompetisi dan pertarungan antara tasawuf semiflsafi dengan tasawuf sunni. Tasawuf sunni memenangkan pertarungan sehingga berkembang sedemikian rupa. Sementara tasawuf semifalsafi tenggelam dan muncul kembali pada abad ke VI hijriyah dalam bentuknya yang lain. Kemenangan tasawuf sunni ini dikarenakan menangnya teologi Ahl Assunah Wa Al-Jamaah yang dipelopori oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w.324 H), yang mengadakan kritik pedas terhadap teori Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj, sebagaimana tertuang dalam syata hiat nya yang diangap bertentangan dengan kaidah dan akidah islam. Tasawuf pada abd tersebut cenderung mengadakan pembaharuan atau menurut annemarie schimmel merupadan periode konsolidasi, yaitu periode yang itandai pemantapan dan pengambilan tasawuf kelandasannya, Al-Qura dan sunnah. Tokoh-tokohnya adalah al-qusyairi(376-465 H), Al-Harawi(196 H), dan Al-Ghazali (450-505 H).
Al-Qusyairi adalah salah seorang tokoh sufi utama abad V Hijriyah. Ia berusaha mengembalikan tasawuf pada landasannya, yaitu Al-Quran dan Hadist.
Ada dua hal yang dikritiknya, yaitu tentang syatahiyat yang dikemukakan oleh sufi semifalsafi dan cara berpakaian mereka yang menyerupai orang miskin, sementara tindakan mereka pada saat yang sama bertentangan dengan metode pakaiannya. Ia menekankan bahwa kesehatan batin dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan sunnah, lebih penting dari pada pakaian lahiriyah
d.   Priode falsafi
Pada abad ke VI hijrah tampillah taswuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, berkompromi dalam dalam pemakain term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf.
Ibnu Khaldun dalam bukunya dalam bukunya, Muqaddimah, menyimpulkan bahwa tasawuf Falsafi mempunyai empat objek utama yang menurut Abu Al-Wafa’ dapat dijadikan karakter sufi Falsafi, yaitu Sebagai berikut.
1.      Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi yang timbul darinya
2.      Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gahaib
3.      Peristiwa-peristiwa dalam alam berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluar biasaan
4.      Pemakain ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyat)
 Pada abad VI dan dilanjutkan abad VII hijriah, muncul cikal-bakal tarekat sufi kenamaan. Hingga dewasa ini, pondok-pondok tersebut merpakan oase-oase di tengah gurun pasir kehidupan duniawi. Kemudian tibalah mereka berjaln dalam suatu kekerabtan para sufi yang tersebar luas, yang menyangkut seorang guru, dan menerapkan disiplin dan ritus yang lazim.
e.    priode pemurnian 
 Mulai muncul legenda-legenda tentang keajaiban dikaitkan dengan tokoh-tokoh sufi, masa awam segera menyambut tipu muslihat itu sehingga yang terjadi bukanlah kebaktian sejati. Kemudian, tasawuf pada waktu itu ditandai bid’ah, khufarat, mengabaikan syariat dan hukum-hukum moral, dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan , membentengi diri dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas, dengan menampilkan amanlan yang irasional, azimat, ramlan, dan kekuatan ghaib.
Bersamaan dengan itu mucullah Ibnu Taimiyah yang dengan lantang menyerang penyelewengan-penyelewengan para sufi tersebut. Ibnu Taimiyah melancarkan kritik terhadap ajaran ittihad, hulul, dan wahdah al-wujud sebagai ajaran yang menuju pada kekafiran  (atheisme), meskipun keluar dari orang-orang yang terkenal ‘arif (orang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat), ahli tahqiq (ahli hakikat), ahli tauhid (orang yang mengesakan Tuhan).
Ibnu Taimiyah masih menoleransi ajaran fana, suatu tingkatan yang diperoleh orang yang ‘arif tatkala kesadrannya hilang, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Ibnu Taimiyah cendrung bertaswuf sebagimana yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW,
Ibnu Taimiyah cendrung bertaswuf sebagimana yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu menjelaskan dan menghayati ajaran Islam, tanpa embel-embel lain, tanpa mengikuti aliran tarekat tertentu dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial, sebagaimana manusia pada umumnya. Tasawuf model ini yang cocok untuk dikembangkan di masa modern seperti sekarang.

C.           TASWUF SUNNI
Taswuf Sunni ialah taswuf yang pengikut-pengikutnya memagari dengan  Al-Qur’an dan Sunnah, serta mengaitkan keadaan dan tingkatan Rohaniah mereka dengan keduanya
Berkembangnya Tasawuf Sunni ini tidak lepas dari aliran teologi Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, karena keunggulan Abu Hasan Al-Asy’ari (w.324 H) atas aliran-aliran (teologi) lainnya.
Secara materiil, yang membedakan tasawuf Sunni dengan yang lainnya hannya dalam tingkatan maqamat menuju Al-Haq. Materi paham tasawuf Sunni tidak menunjikkan paham yang ekstrem sehingga produk materi yang dikembangkan tetap tidak melampaui secara ekstrem sehingga produk materi yang dikembangkan tetap tidak melampaui secara ekstrem petunjuk nash-nash agama.
Tasawuf Sunni terus berkembang sejak zaman klasik Islam hingga zaman modern. Taswuf ini serig di gandrungi orang karena penampilan paham atau ajaran-ajarannya tidak terlalu rumit.
Adapun ciri-ciri taswuf Sunni antara lain sebagi berikut:
1.      Melandaskan diri pada Al-Qur’an dan sunnah.
2.      Tidak menggunakan terminologi-teminologi filsafat.
3.      Lebih mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan manusia.
4.      Kesinambungan antara haqiqah dan syari’ah.
5.      Lebih berkonsentrasi pada soal pembinaan.

D.           TASWUF SYI’I
Taswuf Syi’i atau Syi’ah. Pembagian ini tas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganlisis kedekatan manusia dengan kaum Syi’ah, golongan yang dinisbahkan pengikut Ali bin Abi Thalib.
Menurut Sayyed Hosein Nasr, slah satu persoalan paling sulit yang menyentuh perwujudan taswuf dalam sejarah Islam adalah hubungannya dengan aliran Syi’ah. Kenyataan tentang aliran Syi’ah dan tasawuf sebagai suatu aspek yang terpadu dari wahyu keislaman jelas mengherankan apabila tidak diterangkan berdasrkan arguman kesejarahan yang tedensius.
Dalam sejarah perang shiffin orang-orang pendukung fanatik Ali memisahkan diri dan banyak berdiam di daratan perisa, yaitu suatu dartan yang terkenal banyak mewarisi tradisi pemikiran sejak imperium persia berjaya. Di daratan inilah kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam berkuasa. Ketika itu didaratan Persia ini sudah berkembang tradisi ilmiah. Pemkiran-pemikiran kefilsafatan juga sudah berkembang mendahului wilayah-wilayah Islam lainnya.
Oleh karena itu perkembangan tasawuf Syi’i dapat ditinjau melalui kacamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran-pemikiran filsafat Yunani. Ibnu Khaldun dalam muqadimmah telah menyinggung soal kedekatan kaum telah menyinggung soal kedekatan kaum Syi’ah dengan paham taswuf. Ibnu Khaldun melihat kedetan tasawuf Falsafi dengan sekte Isma’iliyyah. Sekte ini menyatakan terjadi hulul atau ketuhanan para imam mereka. Menurutnya, kedua kelompok ini memiliki kesamaan, khususnya dalam puncaknya kaum ‘arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa doktrin seperti ini mirip dengan doktrin aliran Isma’iliyyah tentang imam dan para wakil. Begitu juga tentang pakaian compang-camping yang disebut berasal dari Imam Ali.



PENUTUP
A.           KESIMPULAN
sejarah perkembangan tasawuf mengalami lima fase, yaitu: pertama, fase pembentukan yang terjadi pada awal abad I dan II dengan corak asketis dalam kehidupan, tidak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal atau lebih dikenal dengan istilah zuhud; kedua, fase pengembangan yang terjadi pada abad III dan IV dengan corak kefanaan, menjurus kepada kesatuan hamba dan khaliq; ketiga, fase konsolidasi yang terjadi pada abad V dan VI, yakni periode pemantapan dan pengembalian tasawuf ke landasan al-Qur’an dan Hadis; keempat, fase tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf; dan kelima, fase pemulihan dari bid’ah, khurafat, mengabaikan syariat, hukum, moral, penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, dan menampilkan amalan yang irrasional. Pada fase ini, ajaran tasawuf dikembalikan sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Rasul, yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran thariqah tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial sebagaimana manusia pada umumnya.

B.            SARAN
Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan penulis dalam pembuatan makalah, maka dari itu kami selaku pemakalah sangat terbantu jika ada yang memberikan keritik serta sarannya, agar makalah yang di kerjakan menjadi lebih baik dan benar.


DAFTAR PUSTAKA
1.                  H.Badrudin, M.Ag. PENGANTAR ILMU TASAWUF.
2.                  Amin, Samsul Munir. ILMU TASWUF. Jakarta. Teruna Grafika. 2012.
3.                  Sulaiman, Umar. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TASWUF.


Filsafat Islam dan Filsafat Barat


                                                            BAB I
                                                  PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Dalam paradigma Islam semakin beriman, orang akan semakin mencari ilmu pengetahuan. Karena dalam Islam, ilmu dan iman itu satu. Keduanya tak pernah bertentangan. Tetapi dalam sejarah Eropa abad ke-15, para ilmuwan Eropa menyadari bahwa agama mereka ternayata disandra oleh otoritas agama. Otoritas agama tidak bisa menerima kehadiran paradigma baru tentang ilmu yang berasal dari Islam itu. Berilmu pengetahuan adalah memisahkan antara ilmu dan iman. Padahal, konsep ilmu dalam Islam itu tidak demikian. Al-kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, bahkan Bung Karno dan Bung Hatta saat menggali pancasila sebagai dasar negara juga menggunakan perspektif al-Farabi, walaupun begitu tidak menyadarinya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. apa pengertian filsafat islam?
2. apa pengertian filsafat barat?
3. apa perbedaan filsafat islam dan filafat barat?



                                                            BAB II
                 PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FILSAFAT DAN FILSAFAT ISLAM
Filsafat adalah kata majemuk yang berasal dari bahasa Yunani, yakni philosophia dan philosophos. Philo berarti cinta (loving), sedangkan shopia atau sophos, berarti pengetahuan atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi, filsafat secara sederhana berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan.
Kemudian, orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa Arab menjadi falsafa. Hal ini sesuai dengan tabiat susunan kata-kata Arab dengan pola fa ‘lala, fa’ lalah dan fi’ lal. Karena itu, kata benda dari kata kerja falsafa seharusnya falsafah dan filsafat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini terpakai dengan sebutan filsafat.
Para penulis sejarah filsafat berasumsi bahwa orang yang pertama menggunakan kata filsafat adalah Phytagoras (w.497 SM). Kata ini digunakannya sebagai reaksi terhadap orang yang menamakan dirinya ahli pengetahuan. Manusia, menurutnya, tidak akan mampu mencapai pengetahuan secara keseluruhan walaupun akan menghabiskan semua umurnya. Oleh sebab itu, yang pantas bagi manusia ialah pecinta pengetahuan (filosof), sehingga terkenal ungkapannya: “Saya tidaklah ahli pengetahuan, karena ahli pengetahuan itu khusus bagi Tuhan saja. Saya adalah filosof, yakni pecinta ilmu pengetahuan.”
Pandangan para orientalis abad ke-19, seperti Tennemann dan E. Renan. Menurut mereka kendatipun orang-orang Islam melakukan kegiatan  mempelajari filsafat, namun mereka tidak akan mungkin melahirkan filsafat sendiri. Alasan-alasan pandangan mereka ini dapat dirangkum sebagai berikut.
1.      Adanya kitab suci Al-Quran yang menegasikan kebebasan atau kemerdekaan berpikir.
2.      Karakter bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat.
3.      Bangsa Arab adalah ras Semit (al-samy), termasuk ras rendah bila dibandingkan dengan bangsa Yunani ras Aria (al-Ary). Ras Semit mempunyai daya nalar yang lemah dan tidak mampu berfilsafat, yang hanya dimiliki oleh ras Aria.
Alasan-alasan yang dikemukakan di atas tidak mempunyai dasar sama sekali, bahkan mengandung kadar kezaaliman. Seperti kitab suci Al-Quran dituding menegasikan kebebasan berpikir, padahal faktualnya tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan dan mendorong pemeluknya banyak berpikir dan melakukan pengamatan dan penelitian dalam pelbagai bidang serta mencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
            Bangsa Arab, ras Semit sebelum Islam tidak berfilsafat, karena kondisinya dan bukan karena rendahnya daya intelektual mereka. Ternyata setelah mereka memeluk Islam dan kondisi mereka berubah dari masa Jahiliah, mereka mampu menguasai dan menciptakan pelbagai bidang sains dan pemikiran filsafat. Sejarah mencatat, bangsa Arab yang beragama Islam lebih dahulu menguasai sains dibandingkan dengan bangsa Eropa dan Amerika. Sebenarnya atas jasa orang Islamlah bangsa Barat mengenal filsafat Yunani dan dapat menikmati ilmu pengetahuan atau sains yang mendorong timbulnya renaissance di Eropa yang menjadi cikal bakal timbulnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
            Selain itu, para orientalis juga mengatakan bahwa filsafat Islam itu tidak lain dari filsafat Yunani yang ditulis dalam bahasa Arab atau filsafat Yunani yang diislamkan. Tuduhan seperti ini juga sulit diterima bahkan tidak beralasan sama sekali dan bertentangan dengan fakta sejarah seperti yang telah disinggung sebelumnya. Memang bila dilihat dari sisi materi yang dibicarakan filsafat Islam diantaranya sama dengan materi yang dibicarakan dalam filsafat Yunani, sehingga terkesan bahwa filsafat Islam hanya sebagai pengalihan bahasa dari filsafat Yunani. Akan tetapi, harus diingat bahwa materi yang sama tersebut di tangan para filosof Muslimah mencapai kesempurnaan dan kedalaman pemikiran filsafatnya di samping mengandung maksud yang berbeda. 
Secara sederhana karakteristik filsafat Islam dapat dirangkum menjadi tiga.           
1.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam, dan roh. Akan tetapi, selain cara penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof muslim juga mengembangkan dan menambahkan ke dalamnya hasil-hasil pemikiran mereka sendiri.
2.      Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas filsafat sebelumnya seperti filsafat kenabian (al-nazhariyyat al-nubuwwat).
3.      Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan filsafat, antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal.
Jadi, yang disebut dengan filsafat Islam adalah perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari ajaran Islam.
Beberapa Filosof Muslim dari Berbagai Belahan, diantaranya sebagai berikut:
v  Al-Kindi
Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Sabbah ibn Imran ibn Ismail ibn al-Asy’ats ibn Qais al-Kindi. Ia dilahirkan di Kufah tahun 185/801. Karangan-karangan Al-Kindi mengenai filsafat menunjukan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batasan-batasan makna istilah-istilah yang dipergunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Masalah-masalah filsafat yang ia bahas mencakup epistemologi, metafisika, etika, dan sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut aliran Pythagoras, al-Kindi juga mengatakan bahwa matematika merupakan ilmu yang mendahului filsafat. Tanpa menguasai matematika, orang tidak akan berfilsafat dengan baik.
v  Ibnu Sina
Lahir dan dibesarkan disuatu tempat yang bernama Asyfana, dari daerah Bukhara. Sebenarnya hidup Ibnu Sina tidak pernah mengalami ketenangan, dan usianya pun tidak panjang, ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun. Meskipun banyak kesibukan-kesibukannya dalam urusan politik, sehingga ia tidak banyak mempunyai kesempatan untuk mengarang, namun ia telah berhasil meninggalkan berpuluh-puluh karangan.

v  Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah orang yang pertama-tama mendalami filsafat dan yang sanggup mengeritiknya pula. Menurut Al-Ghazali, lapangan filsafat ada enam, yaitu matematika, logika, fisika, metafisika (ketuhanan), politik dan etika. Hubungan lapangan-lapangan tersebut dengan agama tidak sama; ada yang tidak berlawanan sama sekali dengan agama, dan ada pula yang sangat berlawanan dengan agama.

B. FILSAFAT BARAT
            Filsafat barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di Univesitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. namun pada hakikatnya, tradisi falsafi Yunani sebenarnya sempat mengalami pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories, dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.
            Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Rene descartes, Immanuel Kant, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean paul sartre.
            Dalam tradisi filsafat Barat di Indonesia sendiri yang notabene-nya adalah bekas jajahan bangsa Eropa-Belanda, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Tema-tema tersebut adalah:
1. Tema Ontology
            Ontology membahas tentang masalah keberadaan sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup atau tata surya.
2. Tema Epistemology
             Epistemology atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas peryataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis, dan metode dialektis.
3. tema aksiologi
            Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
C. PERBEDAAN FILSAFAT ISLAM DAN FILSAFAT BARAT
            Banyak pendapat yang mengatakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari islam. Ada lagi yang berpendapat asal mula filsafat gabungan dari keduanya.
 Filsafat barat adalah hasil dari pemikiran radikal oleh para filosof barat sejak abad pertengahan sampai abad modern. Sedangkan filsafat islam adalah berpikir bebas, radikal dan berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak dan karakter yang menyelamatkan dan kedamian hati.
Perjalanan filsafat barat dimulai dari masa Yunani kuno yang terfokus pada pemikiran asal kejadian alam secara rasional. Segala sesuatu harus atas dasar logika. Kemuadian masa abad pertengahan filsafat berubah arah menjadi bersifat teosentrik, segala kebenaran ukurannya adalah ketaatan pada gereja. Maka mereka banyak yang berasal dari kalangan pendeta (agamawan). Pada perjalanan berikutnya para pendeta dogmatis itu ditinggalpara ilmuan yang kemudian beralih pada pemikiran yang bercorak bebas, radikal, dan rasional yang realis.
            Filsafat islam segala bentuk pemikiran ilmuan muslim yang mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal yang berlandaskan wahyu. Filsafat islam merupakan pengembangan filsafat plato dan aristoteles yang telah dilandasi dengan ajaran islam dan memadukan antara filsafat dan agama, filsafat yang berciri religius dan berusaha sekuat tenaga memasukkan teks agama dengan akal.
            Tujuan filsafat barat dan filsafat islam sebenarnya hampir sama. Namun karena terjadinya perbedaan agama maka pada filsafat islam ada yang membatasinya, yaitu menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya, jadi dalam filsafat objeknya tidak membatasi diri. Dalam filsafat membahas objeknya sampai kedalamannya, sampai ke radikal dan totalitas.

KESIMPULAN
            Filsafat adalah kata majemuk yang berasal dari bahasa Yunani, yakni philosophia dan philosophos. Philo berarti cinta (loving), sedangkan shopia atau sophos, berarti pengetahuan atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi, filsafat secara sederhana berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan.
            Orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa Arab menjadi falsafa. Hal ini sesuai dengan tabiat susunan kata-kata Arab dengan pola fa ‘lala, fa’ lalah dan fi’ lal. Karena itu, kata benda dari kata kerja falsafa seharusnya falsafah dan filsafat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini terpakai dengan sebutan filsafat.
            Beberapa Filosof Muslim dari Berbagai Belahan, diantaranya sebagai berikut:
1. al kindi
2. Ibnu Sina
3.Al- Ghazali
            . Filsafat barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di Univesitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka.
            Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Rene descartes, Immanuel Kant, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean paul sartre.
            Tujuan filsafat barat dan filsafat islam sebenarnya hampir sama. Namun karena terjadinya perbedaan agama maka pada filsafat islam ada yang membatasinya, yaitu menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya, jadi dalam filsafat objeknya tidak membatasi diri. Dalam filsafat membahas objeknya sampai kedalamannya, sampai ke radikal dan totalitas.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi Ahmad, 1996,  pengantar filsafat islam, Jakarta:bulan bintang
https://www.materipendidikan.info/2017/12/perbedaan-filsafat-islam-dan-filsafat.html?=1
Maftukhin, 2012, filsafat islam, Yogyakarta:sukses offset
Zar Sirajuddin, 2010, filsafat islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada


Pantai Kebumen

Panorama Pantai Kebumen

Jika Anda berkunjung ke wilayah Kebumen banyak sekali pantai yang indah. dan wisata pantainya masih asri dan  pemandangan alamnya juga masih terasa sekali. nah karena letaknya juga strategis dengan wisata - wisata yang ada di daerah Kebumen. 

Tidak heran jika banyak wisatawan - wisatawan lokal maupun asing yang datang untuk melihat indahnya pantai tersebut. dan apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri , bisa 10 kali lipat jumlah pengunjung yang datang walaupun hanya sekedar numpang selfi saja. 

Pada beberapa tahun yang lalu ada beberapa pantai yang menduduki peringkat atas bahkan masuk kedalam nominasi pantai ajang turnamen olahraga selancar . dan saya akan memaparkan beberapa pantai - pantai yang ada di Kebumen :

1. Pantai Suwuk
Pantai Suwuk ini terletak di daerah Puring, dan disana terdapat beberapa wahana seperti kebun binatang mini, pesawat terbang yang terdapat bioskop 3 dimensi, dan juga dibawah pesawat terdapat kolam renang . Pemandangan pegunungan disisi barat dengan tiga bukit  menjulang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. selain itu juga kalian dapa menyewa seekor kuda dan menaikinya sepanjang tepi pantai. 

Hasil gambar untuk pantai suwuk 
Hasil gambar untuk pantai suwuk

2.  Pantai Menganti 
 Dan yang satu ini tidak kalah menarik ini terletak di dataran tinggi jadi kita bisa melihat pantai yang berada dibawahnya. pantai yang di kelilingi oleh bukit yang sangat indah dana tidak kalah menarik dari New Zaeland pokok nya. dengan dihiasi pasir putih membuat kita betah stay terus pantai ini. 

 berikut gambarnya :

Hasil gambar untuk pantai menganti kebumen 2018 

3. Pantai Watubale
Pantai Watubale merupakan pantai yang ada di dataran tinggi. pantai ini merupakan salah satu wisata pantai cukup baru dikawasan Kebumen . walaupun pantai baru akan tetapi pengunjung sudah mulai banyak yang mengenal pantai ini.ombaknya yang halus dengan pemandangan sekitarnya yang mempesona.

Gambar Pantai WatuBale 

4. Pantai Karang Bolong
 kenapa dinamakan Pantai Karang Bolong ????? karena karangnya bolong, jadi menjadi bentuk yang sangat unik. dan didalamnya terdapat pasar, karang, dan yang lebih populer lagi yaitu Goa Lawet. yang mana mitosnya jika memasuki goa tersebut kita tidak bisa keluar dari goa tersebut
Hasil gambar untuk pantai karang bolong kebumen

5. Pantai Laguna

  Jika kita bermain di pantai ini serasa kita ditengah - tengah laut loh ????? kenapa??? karena terdapat anak pantai yang mana membentuk seperti kaki gajah . dan dipantai ini terdapat jembatan yang menghubungkan dengan laguna . sangat indah bukan kita bisa selfi diatasnya dan melihat aneka ragam ikan.

Hasil gambar untuk pantai laguna kebumen 

6. Pantai Logending

Hasil gambar untuk pantai logending kabupaten kebumen jawa tengah 
Pantai yang masih asri dengan pemandangan alam disekitar perbukitan. terdapat banyak warung-warung yang menjual makanan dan ada juga tempat untuk membeli ikan segar .masih ada banyak pantai pantai yang lain seperti pantai petanahan, pantai lampon, pantai jetis, pantai karang agung dan masih banyak lagi itu baru sebagian dari yang saya sebutkan.


Yutuk , makanan khas Kebumen

Yutuk , menjadi ciri khas makanan kota kebumen

Apakah kalian pernah mendengar istilah yutuk ????? jika anda berkunjung ke pantai yang ada di Jawa Tengah khususnya daerah Kebumen tentulah tidak asing dengan istilah yutuk . Undur-undur laut, ketam pasir, atau juga yutuk, adalah sebangsa krustasea mirip ketam yang tergolong dalam superfamilia Hippoidea. Hewan beruas-ruas yang hidup di pasir pantai pada garis air laut. Undur-undur laut hidup dengan menggali pasir di batas air laut di pantai. rasa dari yutuk sendiri yaitu seperti udang dan sangat bergizi untuk tubuh kita. diantaranya yaitu kandungannya seperti : undur-undur laut diduga mengandung asam lemak omega-3 yang cukup tinggi sekitar 0,29-0,32 % (Nettleton, 1995). Hasil penelitian Musrsyidin dkk (2002) menunjukkan bahwa undur-undur laut mengandung lemak total yang cukup tinggi, berkisar antara 17,22 – 21,56 %; asam lemak omega 3 total (EPA dan DHA) yang cukup tinggi pula, yaitu berkisar antara 7,75 – 14,48 % dibandingkan dengan beberapa jenis crustacea lain, seperti udang, lobster, dan beberapa jenis kepiting; Sedangkan kandungan EPA (6,41 – 8,43 %) lebih tinggi dibandingkan kandungan DHA (1,34 – 6,57 %). dan hewan ini hidup dengan cara menggali pasir di batas pantai. 


ada aneka ragam makanan yang bahan dasarnya dari yutuk contohnya : 

1. rempeyek yutuk

Hasil gambar untuk manfaat yutuk dan harganya pun sangat terjangkau cukup anda mengocek uang sekitar 2000 per satu rempeyek. dan rasanya pun tidak diragukan lagi loh ???? sangat gurih dan renyah.

2. kentaky yutuk

 Hasil gambar untuk manfaat yutukdan yang satu ini ngga kalah enak loh . dan harganya pun tidak ,membuat kantung menipis sekitar Rp 10000 per bungkus. dan adapun olahan - olahan yang lainya kerupuk dari yutuk, dan masih banyak lagi . dan jika anda penasaran dengan rasanya silahkan berkunjung ke daerah kebumen.

TES EPPS

BAB I PENDAHULUAN   1. Latar Belakang Tes Potensi Akademik adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan seseorang di ...